
Striker Manchester City, Carlos Tevez, tidak akan pernah dilupakan Manchester United sebagai salah satu pemain mereka, tapi juga sebagai pengkhianat. Selebrasi golnya ke gawang MU di semifinal Piala Carling adalah bukti ketidaksenangannya terhadap bekas klubnya itu.
Di hadapan mantan pelatihnya, mantan teman satu klubnya, dan sebagian penonton yang pernah begitu mencintainya saat ia masih di Old Trafford, Tevez mempertontonkan aksi yang membuat mereka begitu marah. Seusai mencetak gol pertama, ia berlari ke dekat bangku cadangan, memperlihatkan selebrasi golnya kepada Gary Neville, yang menyebabkan kapten MU itu mengacungkan jari tengah ke arahnya. Apa alasan Tevez melakukan itu semua?
Sebelum duel kemarin malam, Neville pernah mengatakan bahwa keputusan Pelatih Sir Alex Ferguson untuk tidak menetapkan kontrak pemain Argentina itu sebagai keputusan tepat. Menurut Neville, Tevez tidak layak dibeli dengan harga 25 juta poundsterling karena ia tahu bahwa Ferguson "tahu dengan tepat apa yang dilakukannya ketika masa seorang pemain sudah habis". Tevez, meskipun pernah berharap membela MU, tidak bisa menerima pernyataan Neville itu.
"Aku hanya berpikir Gary sangat tidak menghargai yang sebenarnya tidak seperti itu, tapi dia tidak tahu seluruh cerita bagaimana aku meninggalkan Manchester United dan aku percaya aku layak mendapatkan rasa hormat darinya," kata Tevez.
"Kami mencapai banyak hal di United, aku pencetak gol terbanyak kedua di musim pertama di klub itu dan aku layak dihormati oleh sesama teman-teman profesinal," tambahnya.
Memang sungguh menyakitkan jika dua hati yang saling menginginkan satu sama lain akhirnya harus bercerai dengan cara tidak baik-baik. Apalagi, Tevez kemudian pindah ke klub yang menjadi rival sekota MU. Itu semakin menunjukkan bagaimana rasa sakit hatinya kepada klub yang pernah membesarkan namanya. Sakit hati yang dia lampiaskan dengan cara yang tidak lumrah di dunia sepak bola, yakni merayakan gol di hadapan bekas klubnya.
Meski demikian, ia tak menganggap selebrasi itu sebagai sebuah hinaan. Itu semua dilakukan sebagai sebuah hiburan.
"Sepak bola adalah sandiwara dan sejauh aku tahu, (selebrasi) itu hanyalah kelakar," ujarnya. "Tidak ada maksud dengki terhadap siapa pun. Aku tidak mencoba untuk memanasi siapa pun, tapi aku hanya ingin bilang kepada Neville bahwa dia sebaiknya menunjukkan sikap lebih menghormati."
"Untuk (selebrasi) gol kedua, aku lari ke pinggir lapangan dan memasang corong di telingaku dan melihat ke arah di mana direktur United duduk, dan juga kepada Ferguson, karena aku ingin mereka tahu inilah responsku kepada mereka yang bilang aku tidak layak dengan harga itu," ungkap Carlitos.
"Orang-orang dari United bicara soal aku secara terbuka dan mengkritikku, tapi aku ingin menjawabnya di lapangan karena itulah cara terbaik untuk menanggapi semua orang itu, seperti Neville, yang bilang United sudah benar membiarkanku pergi," tambahnya.
Tevez juga mengungkapkan bahwa ia sangat kecewa karena ia sudah menuai kritik sebelum ia sempat bermain di awal musim karena cedera. Saat kesempatan bermain itu tiba, ia harus berjuang melawan rasa sakit di lututnya yang harus disuntik setiap hari. Rasa sakit yang kemudian menjalar sampai ke hati hingga melahirkan 13 gol dalam 11 penampilannya bersama City.